Sebuah cerita dan narasi tak berstruktur:
Mahasiswa yang berdemo mulai bertindak anarkis, polisi tidak tinggal diam dan membububarkan secara paksa aksi itu. Keadaanpun jadi tidak terkendali.
Massa (mahasiswa) yang emosi, berusaha merobohkan pagar dan memblokir jalan raya. akibatnya kemacetan panjang terjadi. masa mulai membakar ban bekas, berteriak2 yang memakakkan telinga dan membuat jengkel setiap warga yang mendengarnya. Mahasiswa sudah tidak lagi mendapat simpati dari warga. Selain aksinya yang penuh klise… ujung2nya pasti, ricuh. Terlihat mereka tidak “berpendidikan”.
Polisi yang melakukan tindakan represif, langsung mengejar, untuk membubarkan mahasiswa yang “meringam” tadi. tapi apa yang terjadi, mahasiswa yang sudah tertangkap tidak diamankan ataupun diproses, tapi dihajar dulu beramai-ramai, dipentungi, ditendang, diseret-seret seperti binatang.
Jujur, seumur hidup saya belum pernah liat binatang diseret, ditendang2 dan dipukuli, tapi? lihat manusia?? sering. Ironis.
Setelah itu apa? mahasiswa semua membalas, sweepin terhadap polisi dan semua elemen negara yang dianggap berhubungan. Semua orang kesusahan kena batunya. Polisi gag ada salah, dipukuli.
Bagian yang paling menJIJIKAN, muncullah orang2 sotoy yang OMDO bernama KOMNAS HAM.Ra ono otak! Kasus UNAS-berkoar2 polisi salah mengejar kekampus…. wei! palak utak kau! siapa bilang polisi gag boleh menangkap mahasiswa?? siapa melanggar, ditangkap! dimanapun dia berada… gag ada itu yg namanya PERS dan MAHASISWA dan KAMPUS kebal hukum??!!! hah! taik!
Mereka malahan memperkeruh suasana, sok-sok berada dilapangan, sok tau. masih dalam kasus UNAS, bagaimana dengan hak asasi warga????? UNAS itu bersebrangan dengan pemukiman warga…. apa ada yang mikirin warga???? hei bung! tidur, ketenangan, JALAN UMUM, itu HAK!!! Apa kalian melindungi warga??? enggak toh??? dasar goblok!
Setelah UNAS, ada polisi tua naik motor butut, didorong jatuh dari motor terus ditendang sama mahasiswa. HAK ASASI???????????????????????! BULLSHIT!!! MAKAN TAIK GALO KAMU!
Setelah itu??? kekerasan dimana-mana…. sekarang gimana????
POLISI, APARAT, PUNYA HAK UNTUK MEMUKUL. KARENA PENTUNGAN ADALAH ALAT KERJA MEREKA.
YANG TERJADI, APARAT MEMUKUL DI CECAR OLEH komnas han
MAHASISWA, SENJATANYA PENA DAN TOA. MEMUKUL POLISI?? MELEMPAR BATU?? MEMBAKAR MOBIL?? MELEMPAR BOTOL BELING??
dibela
FUCK OFF!!!
Sekarang warga,,,, mereka ini adalah kaum sial, juga goblok. gag bisa apa-apa karena tidak pernah berpikir mereka bisa. yang terlalu senang duduk dizona nyaman.
Hmmmf, gw bukan ngebela polisi… gag juga menyalahkan mahasiswa. saya akui, ada polisi benar, ada polisi salah. ada juga mahasiswa benar, dan ada juga yang salah.
Tapi…. owh come on… kalian semua itu bener2 buat aku jijik!
semua yang kalian lakukan itu, semuanya hanya menyusahkan kepentingan UMUM. semua yang kalian lakukan, tidak ada lagi yang didasarkan pada kepentingan masyarakat. apa ada yang setelah demo memungut sampah nya?? apa ada demo yang tidak membuat macet?? apa bisa sekali-kali mahasiswa mengaku salah?? apa bisa kalian membiarkan teman kalian yang salah dihukum?? apa bisa, sekali-kali kalian pikirkan orang lain?? bisa? ingat kalian itu pelajar, apapun keadaannya, kewajiban kalian itu BELAJAR. ingat lah orang tua kalian, susah2 cari uang…
Pak polisi?? apa bisa menangkap orang yang bersalah tanpa memukulnya?? apa bisa menjaga asas praduga tak bersalah?? apa bisa membina komunikasi?? ingat kalian itu bukan alat tempur! kalian itu sipil yang dipersenjatai… berusaha sekuat mungkin untuk menggunakan “kesipilan” kalian… baru pakai senjata… jangan terbalik.
Apa yang aku pengen??
Kalian iku yo meneng wae. wes…
hahahhaa
*saya ini warga negara brengsek! Pertanyaan yang sama terlontar dalam benak saya. Hei bung, apa guna kau kaya-raya, tapi sekelilingmu kelaparan?? apa guna mobil mewah, tapi bensin muahal dan jalanan hancur. apa guna banyak uang, yang jualan aja gag ada. apa guna jadi presenter sukses, yang nonton aja gag ada yg sanggup beli tivi. apa guna ?? apa?? apa??? kalau semua orang indonesia cuma duduk diam kayak aku.
cuma bisa ngoceh diblog! tanpa berani unjuk gigi! kalau semua orang cuma bisa jada PENGAMAT.
damn, we all fall. negara ini hancur…
jadi ?
1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Terus terang, buat baca ceritamu yang kelihatannya tergolong ’super ringan’ dalam sekali pandang ternyata ada kendala yang bikin ibu harus membacanya dengan hati2. yaitu soal bahasa. ga tau apa ibu yang kuno dalam perbendaharaan kosa kata atau emang kamu menggunakan bahasa daerah tertentu yang ga semua pembaca bisa mengerti?
akibatnya, garis besar jalan ceritanya dimengerti tapi serasa kehilangan greget karena sebel beberapa kalimat ga dipahami.
satu lagi: kalau menggunakan kata yang terlalu jorok, mestinya ga usah ditulis semua deh, satu atau lebih huruf bisa diganti dengan tanda *….. biar terasa lebih ‘berpendidikan’
Komentar oleh wyd Juli 21, 2008 @ 12:13 pm